Category Archives: Ensiklopedi Islam

bagaimana caranya mengenal Allah SWT???berikut caranya


Bismillahirrahmanirrahim…

Assalamualaikum warrahmatullohi wabarakatuh…

Wahai saudaraku alangkah indahnya jikalau kita dapat menjalani hidup dengan ketenangan yang luar biasa…ketenangan dalam melakukan segala sesuatu tanpa rasa takut, was-was, dan khawatir…karena kita tahu bahwa segala sesuatunya adalah berasal dan akan kembali padaNya…dan kita harus meyakini segala kebaikan yang kita lakukan adalah untuk kita sendiri, berikut adalah hal yang insyaAllah dapat mengingatkan ana dan saudaraku sekalian untuk terus mema’rifati Allah Aza Wajalla sehingga kita mendapatkan ketenangan..kiranya semoga sedikit rangkuman dari buku Aqidah karya Sayid Sabiq ini dapat kita renungkan bersama-sama, dan semoga kelak di akherat kita akan bertemu di surganya..dan menjadi hamba yang dicintaiNya..amin

1. Ma’rifatulloh (Mengenal Allah SWT)

Ma’rifatulloh merupakan asas, fundamen atau dasar dari segala aspek kehidupan.

  • Cara berma’rifat:
  1. Dengan menggunakan akal pikiran dan memeriksa secara teliti apa-apa yang diciptakan Allah SWT.
  2. Dengan mema’rifati nama-nama Allah SWT serta sifat-sifatNya.
  • Berma’rifat dengan pikiran
  1. Inti peribadatan kepada Tuhan adalah dengan menggerakan akal dan melepas kekangannya, segera bangun dari tidur nyenyaknya untuk mengadakan perenungan dan pemikiran. S. Yunus 10:101, S. Saba 34:46
  2. Barang siapa yang mengingkari kenikmatan akal dan tidak suka menggunakannya untuk sesuatu yang semestinya dikerjakan oleh akal itu, bahkan melalaikan ayat-ayat dan bukti-bukti tentang adanya kuasa Allah SWT, maka orang semacam itulah yang patut sekali mendapat cemoohan dan hinaan. S. Yusuf 12:105, S. Yasin 36:46
  3. Menganggurkan akal dari tugas yang semestinya itu akan menurunkan manusia itu sendiri ke suatu taraf yang lebih rendah dan lebih hina dari taraf binatang. S. Al A’raf 7:179
  • Taklid adalah penutup akal pikiran
  1. Taklid menurut Dr. Wahbah Zuhaili dalam kitabnya Ushul Al-Fiqh Al-Islami

“Taklid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya”, dalil adalah segala sesuatu yang bisa membuat kita mengetahui matlub khaban (kesimpulan).

2. Taklid menurut Imam Al- Ghazali

“Taklid adalah menerima perkataan orang lain tanpa dasar”

Allah SWT sangat memuji sekali kepada orang-orang yang dapat menjernihkan sesuatu tentang hakikatnya, disisihkannya dari benda-benda lain, kemudian dibedakan dan dimurnikan benda-benda itu setelah dibahas, diperiksa, diteliti, dan disaring oleh akal pikirannya. S. Az Zumar 39:17-18

Allah Ta’ala benar-benar mencela kepada orang-orang yang suka mengekor, mengembik, yakni para ahli taklid yang tidak suka menggunakan akal pikirannya sendiri, yang mereka ikuti hanyalah akal orang-orang lain. Mereka betul-betul beku. Firman Allah yang berkaitan dengan ini S. Al-Baqarah 2:170.

  • Bidang-bidang pemikiran

Agama islam mengajak seluruh umat manusia agar berpikir dan menggunakan akalnya dan bahkan betapa hebatnya anjuran ke arah itu, tetapi yang dikehendaki dalam islam bukanlah pemikiran yang tidak terkendali kebebasannya. Melainkan di dalam islam dianjurkan untuk berpikir sebatas ciptaan Allah SWT yakni apa-apa ciptaannya yang ada di langit dan di bumi. Tidak sebuah atau sesuatu pemikiranpun yang dilarang oleh Allah SWT kecuali memikirkan dzatNya Allah, sebab soal yang satu ini adalah pasti di luar kekuatan akal pikiran manusia.

Al-Quran Al-Karim sendiri penuh dengan beratus-ratus ayat (bukti dan tanda) yang mengajak kita semua untuk memikirkan keadaan alam semesta yang terbuka lebar dan luas di hadapan kita ini, beserta cakrawalanya yang tak terbatas oleh sesuatu apapun karena sangat besarnya dan tidak ada ujung pangkalnya. S. Al-Baqarah 2:219-220

  • Tujuan pemikiran

Tujuan utama diperintahkannya dalam islam untuk mengadakan pemikiran-pemikiran adalah untuk membangunkan akal dan menggunakan tugasnya dalam berpikir untuk menjernihkan hakikat dan menyelidiki. Sehingga sampailah manusia itu kepada petunjuk yang memberikan penerangan sejelas-jelasnya mengenai peraturan kehidupan, sebab-sebabnya perwujudan, tabiat-tabiat keadaan, dan hakikat segala sesuatu.

Manakala hal itu sudah terlaksana dengan baik, tentu akan dapat merupakan cahaya terang untuk menyingkap siapa yang sebenarnya menjadi Maha Pencipta dan pembentuk semuanya itu. Selanjutnya setelah diperoleh, maka dengan perlahan-lahan akan dicapailah hakikat yang terbesar, yaitu berma’rifat kepada Allah SWT. Jadi kema’rifatan kepada Allah SWT itulah yang sesungguhnya merupakan buah atau natijah daripada akal pikiran yang cerdik dan bergerak terus, juga sebagai hasil dari usaha pemikiran yang mendalam serta disinari oleh cahaya yang terang-benderang seperti proses pemikiran dan pencarian Nabi Ibrahim akan siapakah Tuhannya.

Dirangkum dari buku Aqidah Islam, Sayid Sabiq

Advertisements

Pendapat yang menyebabkan Socrates percaya dan beriman kepada Allah dan menundukkan Aristophanes yang mengingkari adanya ketuhanan


Assalamualaikum, wahai saudaraku

Simaklah kutipan percakapan Socrates dan Aristhopanes di bawah ini, ulangilah lebih dari sekali membaca dan pikirkanlah dalam – dalam.

Socrates:

Adakah orang-orang yang mengherankan Tuan karena kepandaian mereka atau karena keindahan buatannya?

Aristhopanes:

Ya ada memang, seperti dalam hal sajak atau puisi saya sangat tertarik dan heran sekali kepada syair-syair cerita dari Homero, dalam bidang lukisan ialah Zoxes dan dalam pembuatan patung ialah Polextic.

Socrates:

Pencipta-pencipta manakah yang kiranya patut lebih diherankan, yakni pencipta gambar-gambar yang tanpa dapat memberi akal serta gerakan ataukah yang menciptakan benda-benda yang juga dengan memberinya akal fikiran serta kehidupan?

Aristhopanes:

Tentu saja patut lebih diherankan yang menciptakan benda-benda yang dapat merasakan kenikmatan dengan memiliki akal fikiran serta kehidupan. Tetapi itupun terjadinya bukan karena sebagai hasil dari keadaan yang merupakan kebetulan belaka.

Socrates:

Apakah kiranya patut dianggap sebagai hal yang kebetulan jikalau sekiranya anggota-anggota tubuh ini diberikan untuk digunakan dengan maksud atau tujuan-tujuan yang tertentu, misalnya saja seperti mata yang dapat melihat, telinga yang dapat mendengar, hidung dapat mencium, lidah dapat merasakan. Lihat pula seperti mata ini di sekitarnya terdapat berbagai penjagaan, karena sangat besar rasa keinderaannya dan pula sangat lemahnya. Oleh karena itu di waktu tidur pasti ditutupkan ataupun juga ditutupkan di waktu ada keperluan, dilindungi pula dengan bulu mata dan alis di atasnya.

Demikian pula seperti telinga, di dalamnya diberi suatu alat penerima yang dapat mengumpulkan segenap macam suara dan masih banyak lagi contoh yang lain-lain.

Cobalah tuan pikirkan, patutkah itu semuanya terjadi sebagai hasil dari yang secara kebetulan?

Selain itu dapat pula dikemukakan adanya kecondongan dalam hati untuk mempunyai keturunan, begitu pula perasaan iba dan kasih sayang yang ada di dalam kalbu setiap ibu terhadap anaknya, padahal suatu hal yang amat jarang sekali bahwa seorang ayah dan ibu dapat menerima balasan kemanfaatan atau keuntungan dari anaknya itu. Sementara itu bagaimana hal-ihwal seorang bayi yang dengan sendirinya lalu dapat memperoleh pengertian untuk menyusu dan cara menyusunya itu, sebentar setelah ia dilahirkan. Apakah menurut pendapat Tuan hal itu semua terlaksanahanya sebagai hasil yang didapat secara kebetulan?

Aristhopanes:

Tentunya juga bukan karena kebetulan. Yah, saya baru mengerti sekarang dengan secara pasti bahwa di sana memang ada petunjuk akan adanya penciptaan. Tetapi yang pasti ialah bahwa yang menciptakan itu sangat agung sekali, yang mencintai akan adanya segala yang hidup. Namun masih ada yang menyukarkan otak saya, karena mengapa kita semua tidak dapat melihat semua yang menciptakan itu?

Socrates:

Kalau begitu kita sudah mencapai titik yang sama, yaitu mengakui adanya Maha Pencipta yang Maha Agung dan mencintai kehidupan dalam semesta ini. Tentang persoalan mengapa kita tidak dapat melihat Maha Pencipta, maka saya ingin mendapat jawaban Tuan, yaitu apakah Tuan merasa mempunyai nyawa, sebab kalau tuan tidak bernyawa, tentunya sudah mati. Punyakah atau tidak?

Aristhopanes:

Ya, tentu saja punya. Mengapa?

Socrates:

Jikalau demikian sudah mudah pemecahannya. Mengapa tuan sendiri tidak dapat melihat nyawa yang menguasai diri Tuan sendiri.

Jadi kalau Tuan tidak pernah melihat nyawa Tuan, apakah ini berarti kita boleh mengatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang timbul dari diri tuan itu adalah semata-mata disebabkan karena secara kebetulan semuanya, tanpa ada pemikiran sebelumnya?

Sampai di sini selesailah percakapan kedua orang ahli filsafat itu, yang sungguh-sungguh berfaedah untuk diresapi dan direnungkan dalam-dalam.

Maha benarlah Allah SWT yang berfirman:

“,,Dan setengah daripada tanda-tanda (ayat-ayat) mengenai adanya Allah ialah malam dan siang, serta matahari dan bulan. Janganlah kamu semua bersujud kepada matahari atau kepada bulan. Tetapi bersujudlah kepada Allah yang Maha Menciptakan semuanya itu, jikalau kamu semua benar-benar menyembahNya”.

QS. Fushshilat 37

Pertemuan kita dalam forum ini dan waktu yang tersedia untuk anda memahami tulisan ini adalah buka sesuatu yang kebetulan belaka…Allah telah memberiokan kita waktu untuk memahami sesuatu dan senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan untuk menuju jalanNya…untuk menjadi pribadi muslim Kaffah. Wassalamualaikum (Halilintar)

Sumber: Aqidah Islam (Pola Hidup Manusia Beriman). Sayid Sabiq

Islam adalah Keimanan dan Perbuatan


Bismillah…Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, dan Islam merupakan agama yang berintikan keimanan dan amal perbuatan. “Keimanan” itu merupakan akidah dan pokok (pangkal utama), yang di atasnya berdiri syari’at Islam. Yang kemudian dari pokok itu keluarlah cabang-cabangnya. Sedangkan “Perbuatan” itu merupakan syari’at dan cabang-cabang yang dianggap sebagai buah yang keluar dari keimanan serta akidah itu. Keimanan dan perbuatan, atau dengan kata lain’akidah dan syari’at’, keduanya itu antara satu dengan yang lain sambung-menyambung, hubung-menghubungi dan tidak dapat berpisah yang satu dengan yang lainnya. Keduanya adalah sebagai buah dengan pohonnya, sebagai musabbab dengan sebabnya atau sebagai natijah (hasil) dengan mukaddimahnya (pendahuluannya). (Aqidah Islam. Sayid Sabiq h. 15)

Oleh karena adanya hubungan yang erat itu, maka amal perbuatan selalu disertakan penyebutannya dengan keimanan dalam sebagian besar ayat-ayat Al Quran Al Karim, hal ini dapat dilihat dalam firman-firman Allah SWT yang menerangkan hubungan keimanan dan perbuatan, antara lain:

“,,Berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, bahwasanya mereka itu akan memperoleh surga yang di bawahnya mengalirlah beberapa sungai”. QS. Al Baqarah 25

“,,Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan, baik ia lelaki atau perempuan dan ia seorang yang beriman, maka pastilah Kami (Allah) akan memberinya kehidupan yang baik dan pasti kami beri balasan dengan pahalanya, menurut yang telah dikerjakan dengan sebaik-baiknya”. QS. An Nahl 97

“,,Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka Tuhan Yang Maha Pengasih akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang”. QS. Maryam 96

Seseorang yang telah menyatakan dirinya sebagai muslim (beragama Islam) agar menjadi muslim sejati (kaffah), haruslah mengerti dan menjalankan pokok-pokok ke-islaman (biasa disebut dengan rukun islam) yang lima, yaitu:

1. Mengucapkan dua kalimat Syahadat.

Dua kalimat syahadat yaitu dua perkatan pengakuan, ikrar, janji, dan sumpah yang diucapkan dengan lisan dan dibenarkan (diyakini) oleh hati untuk menjadi orang Islam. Kedua kalimat syahadat itu mempunyai pengertian, antara lain:

  1. Syahadat Tauhid, maksudnya: Mengakui (menyaksikan)ke-Esaan Allah (tidak berbilang).
  2. Syahadat Rasul, maksudnya: Mengakui (menyaksikan)ke-Rasulan Mabi Muhammad SAW.

2. Mendirikan (menegakkan) shalat lima waktu sehari semalam.

3. Mengeluarkan zakat.

4. Berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan

5. Menunaikan ibadah haji bagi yang mampu ke Baitullah.

Pokok-pokok keislaman di atas tentunya hanya akan dapat dilakukan apabila kita telah mengimani dengan sepenuh hati enam perkara dalam pokok-pokok keimanan (yang biasa disebut rukun iman) yang enam berikut:

  1. Beriman kepada Allah SWT dengan segala sifat kesempurnaanNya (Ma’rifat kepada Allah)
  2. Beriman kepada para Malaikat Allah.
  3. Beriman kepada kitab-kitab Allah yang pernah diturunkan kepada para RasulNya.
  4. Beriman kepada Rasul Allah.
  5. Beriman kepada Hari Kiamat.
  6. Beriman kepada Qodho dan Qadar (ketentuan Allah)

Ke-enam perkara di atas harus benar-benar tertanam dalam hati seorang mu’min dan diaplikasikan dalam amal perbuatan sehari-hari. Karena Iman merupakan pondasi kehidupan manusia yang beragama. (Halilintar) Wallohualam bishowab

Sumber: Aqidah Islam (Pola Hidup Manusia Beriman), Sayid Sabiq.

NI‘MAH (Nikmat)


NI‘MAH (Nikmat)

Kata ni‘mat adalah bentuk mashdar dari kata kerja na‘ima – yan‘imu – ni‘matan wa man‘aman (نَعِمَ – يَنْعِمُ – نِعْمَةً وَمَنْعَمًا). Menurut Ibnu Faris, kata na‘ima berakar kata dengan huruf-huruf nûn (نُوْن), ‘ain (عَيْن), dan mîm (مِيْم), yang me­ngandung makna pokok ‘kelapangan’ dan ‘kehidupan yang baik’. Kata ini juga bermakna ‘segala sesuatu yang diberikan seperti rezeki, harta, atau lainnya’. Al-Ashfahani menulis bahwa pengertian asal dari kata ni‘mat adalah ‘kelebihan’ atau ‘pertambah­an’, seperti ketika Anda yang tadinya tidak memiliki sesuatu kemudian memperoleh sesuatu itu’; inilah yang dimaksud dengan ‘penambahan’ atau ‘kelebihan’ jika dilihat dari keadaan Anda sebelumnya. Ini pulalah yang dinamai oleh bahasa agama sebagai ‘ni‘mat’.

Pakar bahasa, Al-Jurjani di dalam At-Ta‘rîfât mengemukakan bahwa ni‘mat adalah suatu pemberian Allah swt. yang di­pandang baik dan lezat, yang memberi manfaat bagi kesenangan atau kebahagiaan hidup umat manusia. Ni‘mat tersebut adalah milik Allah dan diberikan kepada setiap orang yang dikehendaki-Nya.

Di dalam Al-Qur‘an, kata ni‘mat (نِعْمَة) yang berdiri sendiri di dalam suatu redaksi terulang sebanyak 34 kali, antara lain pada QS. Al-Baqarah [2]: 211 dan 231, QS. آli ‘Imrân [3]: 103, 171, dan 174, QS. Al-Mâ’idah [5]: 7, 11, dan 20, QS. Ibrâhim [14]: 6, 28, dan 34, QS. An-Nahl [16]: 18, 53, 71, 72, 83, dan 114, QS. Al-Lail [92]: 19, serta QS. Adh-Dhuhâ [93]:11.

Penggunaan kata ni‘mat pada QS. Al-Baqarah [2]: 211, adalah di dalam konteks pembicaraan tentang ancaman siksa yang amat keras bagi orang yang menukar nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya. Firman Allah swt., “Tanyakanlah kepada Bani Israil, ‘Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka’. Dan barangsiapa yang menukar nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya’”. Menurut para mufasir bahwa yang dimaksudkan dengan “nikmat Allah” di sini ialah perintah-perintah dan ajaran-ajaran-Nya.

Di dalam pada itu, cukup banyak ayat Al-Qur‘an yang memerintahkan kepada manusia agar (senantiasa) mengingat nikmat Allah. Paling tidak, ditemukan 14 kali di antara kata ni‘mat dan bentukannya —yang berjumlah 47 kali— me­muat perintah tersebut, misalnya yang di­ungkap­kan dengan Wadzkurû ni‘matal-lâhi ‘alaikum (i وَاذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ = Dan ingatlah akan nik­mat Allah kepadamu) di dalam QS. Al-Baqarah [2]: 231.

Di sisi lain, Al-Qur‘an juga meng­informasi­kan bahwa nikmat Allah amat banyak sehingga tidak seorang pun yang mampu menghitungnya. Bahkan, pakar tafsir Al-Qur‘an, M. Quraish Shihab me­nyata­kan, “Keberadaan manusia itu pun merupakan nikmat, di dalam arti pe­nambahan atau kelebihan”. Jelasnya, apakah manusia sebelum berada telah memiliki ke­kayaan, ilmu pengetahuan, anak, istri, pakai­an, kedudukan, petunjuk agama, dan lain-lain? Jawabnya pasti, tidak. Bukankah ada manusia yang tidak me­miliki minimal sebagian dari apa yang disebut itu? Kalau demikian, kesemuanya adalah nikmat-nikmat Allah. Jadi, pada akhirnya apa pun yang berada pada diri manusia, di dalam lingkungan, bahkan di seluruh alam raya ini semuanya merupa­kan nikmat Allah. Karena itu, tepatlah penegasan QS. Ibrâhîm [14]: 34.

Al-Qur‘an menunjukkan pula bahwa nikmat Allah yang banyak itu tidak saja bersifat materil yang dapat dirasakan secara jasmani, tetapi juga bersifat non-materil yang dapat dirasakan secara rohani. Untuk nikmat jenis yang pertama, misalnya “nikmat berupa rezeki”, (QS. An-Nahl [16]: 71); “nikmat berupa istri, anak-anak, dan cucu-cucu” (QS. An-Nahl [16]: 72); serta “nikmat berupa langit, bumi, air hujan, buah-buahan, alat transportasi laut dan sungai, matahari dan bulan yang terus menerus beredar di dalam orbitnya, siang dan malam yang silih berganti, dan segala kebutuhan hidup yang diminta kepada Allah” (QS. Ibrâhim [14]: 32-34).

Untuk nikmat jenis kedua —nikmat yang bersifat non-materil yang dapat dirasakan secara rohani— misalnya, “nikmat agama Islam” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 3); “nikmat keselamatan dari perbuatan jahat” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 11); serta “nikmat persatuan dan persaudaraan, yang sebelumnya bermusuhan-musuhan, bahkan telah berada di tepi jurang neraka” (QS. آli ‘Imrân [3]: 103).

Kata ni‘mat (نِعْمَة) digunakan pula untuk menunjukkan adanya nikmat yang akan di­peroleh di akhirat, yakni nikmat berupa pem­bebasan dari api neraka, seperti firman Allah di dalam QS. Ash-Shâffât [37]: 57.

Oleh karena itu, di samping Allah me­merintahkan untuk mengingat nikmat-Nya, Dia pun menunjukkan agar manusia pandai-pandai mensyukuri nikmat-Nya. Hal ini ditegaskan di dalam QS. An-Naml [27]: 19 dan QS. Al-Ahqâf [46]: 15. Walau­pun kedua ayat ini memiliki redaksi yang sama, namun konteks pembicaraan yang dituju berbeda. Kalau ayat yang pertama menyangkut kisah Nabi Sulaiman as. dan semut; maka, ayat yang kedua me­nyangkut kewajiban manusia untuk meng­hormati kedua ibu bapak­nya.

Penggunaan kata ni‘mat di dalam kaitannya dengan perintah menyebut-nyebut nikmat itu sebagai pertanda mensyukurinya, ditemukan pula di dalam QS. Adh-Dhuhâ [93]: 11. M. Quraish Shihab di dalam Tafsir Al-Qur’ân Al-Karîm, menjelaskan bahwa menyebut-nyebut nikmat Tuhan, apabila disertai dengan rasa puas sambil menjauhkan rasa riya dan bangga merupakan salah satu bentuk pengejawantahan dari rasa syukur kepada Allah swt. Misalnya, dengan ungkapan, “Al-hamdulillâh, semalam aku men­dapat taufik dan anugerah Allah sehingga dapat melaksanakan shalat lail (malam) sekian kali”. Atau, “Al-hamdulillâh, saya melakukan puasa Senin-Kamis sejak beberapa tahun”, dan sebagai­nya. Pengungkapan seperti ini dianjurkan selama tidak diikuti oleh rasa bangga dan ingin dipuji.

Dengan demikian, kata ni‘mat (نِعْمَة) di dalam Al-Qur‘an dipahami dengan makna ‘anugerah’, ‘ganjaran’, ‘kelapangan’, ‘rezeki’, dan ‘kekuasaan’. Kata ni‘mat ini digunakan bukan saja di dalam konteks pembicaraan tentang nikmat yang bersifat materil, melainkan juga yang bersifat spiritual; dan tidak saja menunjukkan nikmat yang dapat diperoleh di dunia, tetapi juga nikmat yang akan diterima di akhirat. (Muhammadiyah Amin).

KHUSYÛ‘ (khusyuk)


KHUSYÛ‘ (khusyuk)

Kata khusyû‘ (خشُوْع) beserta kata lain yang seakar dengan itu ditemukan di dalam Alquran sebanyak 17 kali. Satu kali dengan fi‘l mâdhi (kata kerja masa lalu), satu kali dengan fi‘l mudhâri‘ (kata kerja masa kini dan akan datang), satu kali dengan mashdar (infinitif) dan selebihnya diungkapkan dengan ism fâ‘il (kata benda yang menunjukkan pelaku). Secara bahasa, khusyû‘ (خُشُوْع) berarti ‘tunduk’ atau ‘merendahkan diri’. Al-Asfahani menyamakan arti khusyû‘ (خشُوْع) dengan dhirâ‘ah (ضِرَاعَة = merendahkan diri). Hanya saja pada umumnya kata khusyû‘ (خشُوْع) lebih banyak dipergunakan untuk anggota tubuh, sementara kata dhirâ‘ah (ضِرَاعَة) lebih banyak dipergunakan untuk hati (ketundukan hati). Ia mengemukakan contoh sebuah riwayat yang mengatakan, idzâ dhara’a al-qalb khasya‘at al-jawârih (إِذَا ضَرَعَ الْقَلْبُ خَشَعَتِ الْجَوَارِحُ = ketika hati telah tunduk, ketika itu pula anggota tubuh menjadi tunduk). Hal senada juga dikemukakan oleh Ibnu Manzur Al-Ansari yang mengatakan bahwa khusyû‘ (خُشُوْع) berarti “tindakan yang dilakukan oleh seseorang dengan melemparkan pandangannya ke bawah (ke bumi) lalu ditundukkan kepalanya dan dipeliharanya suaranya”. Pendapat lain mengatakan bahwa kata khusyû‘ lebih sempurna dari kata khudhû‘. Kalau khudhû‘ hanya dengan membungkukkan badan untuk memperoleh suatu benda yang ada di bawah, sementara khusyû‘ (خُشُوْع) mencakup menundukkan badan, suara, dan penglihatan. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang artinya, “Dan mereka menyungkurkan muka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk” (QS. Al-Isrâ’ [17]: 109). Ayat ini sebagai penghibur Nabi Muhammad Saw. bahwa beriman atau tidaknya seseorang itu tidak usah dirisaukan. Pada hari Kiamat suara dan penglihatan manusia menjadi rendah (khusyuk) karena dulunya ada yang tidak mau bersujud kepada Allah (S. Thâhâ [20]: 108 dan S. Al-Qalam [68]: 43).

Dengan demikian khusyû‘ (خُشُوْع) berarti “menundukkan diri dengan cara menundukkan anggota badan, merendahkan suara, atau penglihatan, dengan maksud agar yang menundukkan diri itu benar-benar merasa rendah dan tanpa kesombongan”. Pada umunya pengertian khusyû‘ (خُشُوْع) ditemukan di dalam rangka mendekatkan diri, memperhambakan diri kepada Allah seperti salat dan berdoa memohon sesuatu dari Allah. Di dalam S. Al-Mu’minûn [23]: 1–2 misalnya, dikatakan bahwa orang beriman yang sukses antara lain ditandai dengan kekhusyukan salatnya. Latar belakang turunnya ayat ini, sebagaimana dikemukakan oleh Ath-Thabari, bahwa Rasulullah Saw. dan sahabatnya mengarahkan penglihatan ke langit waktu melakukan salat. Kemudian, Allah menurunkan ayat ini dengan maskud agar di dalam salat penglihatan harus dikebawahkan dan tidak boleh melebihi batas tempat melakukan salat. Karena itu, Ath-Thabari mengartikan khusyû‘ (خُشُوْع), berdasarkan beberapa riwayat yang dikemukakannya, dengan “menundukkan kepala dan melihat tempat sujud, tenang melakukannya, tidak menoleh ke kiri dan ke kanan, menundukkan hati dan menjaga penglihatan”. Sementara itu, Ibnu Katsir mengartikan khusyû‘ (خُشُوْع) dengan “rasa takut kepada Allah dan tenang melakukan salat (khâ’ifûn sâkinûn)”. Ini berarti khusyû‘ di dalam salat adalah mengosongkan hati dari kesibukan di luar salat yang akan mempengaruhi anggota tubuh dan pikiran. Dengan demikian, khusyû‘ (خُشُوْع) tidak lagi sekadar menundukkan diri, tetapi sudah mengarah kepada pemusatan perhatian (konsentrasi) kepada perbuatan yang dilakukan.

Pada tempat lain, kata khusyû‘ (خُشُوْع) juga dipergunakan untuk orang yang beriman dengan melakukan ketaatan sepenuhnya kepada Allah serta ajaran-ajaran-Nya (S. Ali ‘Imrân [3]: 199) dihubungkan dengan orang-orang yang berserah diri, beriman, taat, orang yang benar, sabar, suka bersedekah, dan berpuasa serta memelihara kehormatannya (QS. آli ‘Imrân [3]: 35, QS. Al-Mu’minun [23]: 1-11).

Di samping pemakaian kata khusyû‘ (خُشُوْع) dalam pengertian-pengertian di atas, di dalam Alquran juga ditemukan kata itu dengan makna lain yang dikaitkan dengan kemahakuasaan Allah. Contohnya, Allah mampu menghidupkan yang mati dengan mengemukakan perumpamaan bumi yang kering tandus (khâsyi‘ah, خَاشِعَة), jika Allah menurunkan hujan maka ia menjadi hidup dan subur (QS. Fushshilat [41]: 39). Juga dikaitkan dengan pembuktian dan kebenaran Alquran sebagai mukjizat karena ada tantangan dari orang kafir. Karena itu, Allah memberikan perumpamaan jika Alquran diturunkan di atas gunung, maka gunung itu akan merunduk dan pecah (khâsyi‘an mutashaddi‘an) karena takut kepada Allah. Di sini kata khâsyi‘ disambung dengan kata mutashaddi‘ untuk menguatkan perumpamaan tersebut, agar manusia berpikir.

Kendati di dalam Alquran pemakaian kata khusyû‘ (خُشُوْع) mengacu ke beberapa makna seperti telah diuraikan, tetapi yang paling banyak dipergunakan adalah arti kekhusyukan di dalam beribadah, seperti dalam salat, berdoa, dan ibadah lainnya. (Yaswirman)

FAUZ (Keberuntungan)


FAUZ (Keberuntungan)

Kata fauz (فَوْزٌ) merupakan bentuk mashdar (infinitif) dari fâza – yafûzu – fawzan (فَازَ يَفُوْزُ فَوْزًا ). Bentuk jamak dari fauz ( فَوْزٌ) adalah fawâiz ( فَوَائِزٌ). Di dalam Al-Qur’an, kata fauz (فَوْزٌ) dan kata yang seasal dengan kata itu disebut 29 kali.

Secara bahasa, kata fauz (فَوْزٌ) berarti azh-zharf bil khaîr wan najâtu minasy syarri (الظَّرْفُ بِالْخَيْرِ وَالنَّجَاةُ مِنَ الشَّرِّ = Keberhasilan mem­pero­leh ke­baikan dan terlepas dari kejahatan). Dengan kata lain, fauz (فَوْزٌ) berarti ‘keberuntungan’. Kata lain yang sinonim dengan fauz (فَوْزٌ) yang terdapat di dalam Al-Qur’an adalah iflâh (إِفْلاَحٌ ), seperti qad aflaha man tazakkâ (قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكًّى = sesung­guhnya beruntunglah orang yang membersih­kan dirinya) (QS. Al-A‘lâ [87]: 14) dan qad aflahal mu’minûn (قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ  = Sesungguhnya ber­untunglah orang yang beriman) (QS. Al-Mu’minûn [23]: 1). Akan tetapi, kata iflâh (إِفْلاَحٌ) lebih umum dari kata fauz (فَوْزٌ), karena bisa mencakup kemenangan di dunia dan di akhirat. Untuk di dunia seperti tukang sihir yang tak akan menang melawan Nabi Musa as. (QS. Thâhâ [20]: 69). Untuk di akhirat, sebagaimana yang dikemukakan oleh Al-Qurthubi, keberuntungan yang diperoleh seseorang yang berat timbangan baiknya (QS. Al-A‘râf [7]: 8). Kata fauz (فَوْزٌ) lebih dikhususkan kepada keberuntungan atau ke­menangan yang akan diperoleh di akhirat kelak, sebagai keberuntungan yang hakiki atau fauzun ‘azhîm (فَوْزٌ عَظِيْمٌ) (QS. Ash-Shâffât [37]: 60, QS. At-Taubah [9]: 100, dan sebagainya).

Dengan demikian, secara termino­logis, kata fauz (فَوْزٌ) berarti hasil baik atau keberuntungan yang akan diperoleh seseorang yang beriman sebagai imbalan dari perbuatan baik (‘amal shâlih) yang dilakukan selama di dunia. Hasil baik itu adalah kesenangan surga dan terhindar dari siksaan neraka. Jadi, keberuntungan yang dimaksud di sini adalah ke­ber­untung­an yang bersifat rohani dan bukan keberuntungan materi seperti yang diperoleh manusia di dunia ini.

Bila kita telusuri ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang fauz (فَوْزٌ), hanya satu yang menggunakan afûzu (أَفُوْزُ), yang berarti ‘saya beruntung’. Itu pun menggambar­kan ucapan orang munafik yang memahami ‘keberuntung­an’ sebagai keberuntungan yang bersifat materi (QS. An-Nisâ’ [4]: 73). Selebihnya mengan­dung makna ‘pengampunan dan keridhaan Tuhan serta kebahagiaan surgawi’. Oleh karena itu, ucapan wal fâ’izîn (وَالْفَائِزِيْنَ) sebagai sambungan dari ucapan minal ‘âidîn (مِنَ الْعَائِدِيْنَ) yang sering diucapkan pada hari Idul Fitri dipahami di dalam arti harapan dan doa, yakni semoga kita semua memperoleh ampunan dan ridha Allah swt. sehingga kita mendapatkan kenikmatan surga.

Salah satu persyaratan memperoleh keberuntungan itu adalah suka memaafkan orang lain serta lapang dada (QS. An-Nûr [24]: 22). Ayat ini berkaitan dengan kisah Abu Bakar ra. yang semula tidak akan memaafkan orang yang menyebarkan berita bohong tentang anaknya, sekaligus istri Nabi Muhammad, Aisyah ra. Setelah ayat ini turun maka Abu Bakar memaafkannya dan memperoleh keberun­tungan di akhirat nantinya.

Keberuntungan di dalam arti fauz (فَوْزٌ) dikemukakan oleh Al-Qur’an sebagai keberuntung­an yang kekal dan tidak akan habis-habisnya (QS. At-Taubah [9]: 100, QS. An-Nisâ’ [4]: 13, QS. At-Taghâbun [64]: 9, dan sebagainya).

Al-Barwaswi, dengan mengutip pendapat Ibnu ‘Ata’ mengatakan, al-fâ’izûn (اَلْفَائِزُوْنَ) itu adalah orang-orang yang taat kepada Allah dengan arti memerkenankan seruan yang hakiki dan taat kepada Rasulullah di dalam arti memerkenankan seruan yang berisikan nasihat-nasihat. Ditambahkan oleh Al-Maraghi bahwa taat kepada Allah dan Rasul-Nya berarti semua perintah agama diikuti dan semua larangan agama dijauhi. Takut kepada Allah berarti takut berbuat dosa, karena itu mereka tinggalkan sehingga muncul rasa ingin menghindar dari dosa tersebut (takwa). Karena ketakwaan itulah mereka memperoleh fauz ( فَوْزٌ = keberuntungan yang sesungguhnya) dan terhindar dari siksaan neraka (QS. Az-Zumar [39]: 61). Yaswirmani

Makna Syahadatain


1. Makna Syahadatain

I. Pendahuluan

Kalimat syahadat adalah pintu gerbang seseorang menjadi muslim. Ketika seseorang ingin masuk Islam, hal pertama yang dilakukan adalah mengucapkan “Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammaddar rosuulullaah”. Dengan ucapan tersebut ia otomatis sudah menjadi seorang muslim yang memiliki konsekuensi menjalankan syariat Islam. Kalimat ini pulalah yang menentukan seseorang itu husnul khatimah atau su’ul khatimah di akhir hayatnya. Dengan kalimat ini pula pintu syurga terbuka untuknya.

Konsep yang terkandung dalam kalimat laa ilaaha illallaah adalah konsep pembebasan manusia dari penghambaan apapun kecuali Allah SWT semata-mata. Manusia menafikkan secara langsung segala bentuk ketuhanan yang ada di alam ini, kecuali hanya Allah SWT. Penolakan tersebut bertujuan untuk membersihkan aqidah dari syubhat ketuhanan dan menegaskan bahwa segala arti dan hakikat ketuhanan itu hanya ada pada Allah.

Kalimat syahadah ini memberikan pemahaman kepada kita dalam memahami dan bersikap bahwa tidak ada pencipta kecuali Allah saja, tiada pemberi rizki selain Allah, tiada pemilik selain Allah, tiada yang dicintai selain Allah, tiada yang ditakuti selain Allah, tiada yang diharapkan selain Allah, tiada yang menghidupkan dan mematikan selain Allah, tiada yang melindungi selain Allah, tiada daya dan kekuatan selain Allah dan tiada yang diagungkan selain Allah. Kemudian pengakuan Muhammad Rasulullah adalah menerima cara menghambakan diri berasal dari Rasulullah SAW sehingga tata cara penghambaan hanya berasal dari tuntunan Allah yang disampaikan kepada rasul-Nya.

Oleh karena itu syahadatain menjadi suatu pondasi dari sebuah metode lengkap yang menjadi asas kehidupan umat muslim. Dengan pondasi ini kehidupan Islami akan dapat ditegakkan. Semakin dalam pemahaman kita terhadap konsep syahadatain dan semakin menyeluruh kita mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka semakin utuh kehidupan Islami tumbuh dalam masyarakat muslim.

II. Definisi Syahadah
1. Secara bahasa, “Asyhadu” berarti saya bersaksi. Kesaksian ini bisa dilihat dari waktu, termasuk dalam aktivitas yang sedang berlangsung dan masih sedang dilakukan ketika diucapkan  Asyhadu ini sendiri memiliki tiga arti:
a. Al I’lan (pernyataan), QS. Ali Imran (3) : 18
b. Al Wa’d (janji), QS. Ali Imran (3) : 81
c. Al Qosam (sumpah), QS. Al Munafiqun (63) : 2
2. Secara istilah syahadat merupakan pernyataan, janji sekaligus sumpah untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya melalui :
a. Pembenaran dalam hati (tasdiqu bil qolbi)
b. Dinyatakan dengan lisan (al qaulu bil lisan)
c. Dibuktikan dengan perbuatan (al ’amalu bil arkan)
Menurut hadist : “Iman adalah dikenali oleh hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan rukun-rukunnya”. (HR Ibnu Hibban)
Setelah memahami syahadah maka akan muncul keimanan, keimanan ini harus terus disempurnakan dengan sikap istiqomah, QS. Al Fushilat (41)
Istiqomah yang benar akan menghasilkan :
a. Syaja’ah (berani), QS.Al Maidah (5) : 52
b. Ithmi’nan (ketenangan), QS Ar Ra’du (13) : 28
c. Tafa’ul (optimis)

III. Jenis-jenis Syahadah
a.  Syahadah Rububiyah yaitu pengakuan identitas terhadap Allah sebagai pencipta, pemilik, pemelihara dan penguasa,
QS. Al A’raf (7) : 172
b.  Syahadah Uluhiyah yaitu : pengakuan loyalitas terhadap Allah sebagai satu-satunya supremasi yang boleh disembah dan ditaati, QS. Al A’raf (7) : 54
c.  Syahadah risalah yaitu pengakuan terhadap diri Muhammad SAW sebagai utusan-Nya beliau adalah panutan terbaik bagi manusia,
QS. Al Ahzab (33) : 21
Referensi :
1. Syahadahmu syahadahku, paket BPNF
2. Memurnikan la ilahaa illallah, Mu Said Al Qathrani, M. Bin Abd. Wahhab,  M Quthb
3. Pengantar Studi Aqidah Islam, Dr. Ibrahim Muhammad bin Al Buraikan
4. Ma’na Syahadah, Dr, Irwan Prayitno
5. Petunjuk Jalan Sayyid Quthb