bagaimana caranya mengenal Allah SWT???berikut caranya


Bismillahirrahmanirrahim…

Assalamualaikum warrahmatullohi wabarakatuh…

Wahai saudaraku alangkah indahnya jikalau kita dapat menjalani hidup dengan ketenangan yang luar biasa…ketenangan dalam melakukan segala sesuatu tanpa rasa takut, was-was, dan khawatir…karena kita tahu bahwa segala sesuatunya adalah berasal dan akan kembali padaNya…dan kita harus meyakini segala kebaikan yang kita lakukan adalah untuk kita sendiri, berikut adalah hal yang insyaAllah dapat mengingatkan ana dan saudaraku sekalian untuk terus mema’rifati Allah Aza Wajalla sehingga kita mendapatkan ketenangan..kiranya semoga sedikit rangkuman dari buku Aqidah karya Sayid Sabiq ini dapat kita renungkan bersama-sama, dan semoga kelak di akherat kita akan bertemu di surganya..dan menjadi hamba yang dicintaiNya..amin

1. Ma’rifatulloh (Mengenal Allah SWT)

Ma’rifatulloh merupakan asas, fundamen atau dasar dari segala aspek kehidupan.

  • Cara berma’rifat:
  1. Dengan menggunakan akal pikiran dan memeriksa secara teliti apa-apa yang diciptakan Allah SWT.
  2. Dengan mema’rifati nama-nama Allah SWT serta sifat-sifatNya.
  • Berma’rifat dengan pikiran
  1. Inti peribadatan kepada Tuhan adalah dengan menggerakan akal dan melepas kekangannya, segera bangun dari tidur nyenyaknya untuk mengadakan perenungan dan pemikiran. S. Yunus 10:101, S. Saba 34:46
  2. Barang siapa yang mengingkari kenikmatan akal dan tidak suka menggunakannya untuk sesuatu yang semestinya dikerjakan oleh akal itu, bahkan melalaikan ayat-ayat dan bukti-bukti tentang adanya kuasa Allah SWT, maka orang semacam itulah yang patut sekali mendapat cemoohan dan hinaan. S. Yusuf 12:105, S. Yasin 36:46
  3. Menganggurkan akal dari tugas yang semestinya itu akan menurunkan manusia itu sendiri ke suatu taraf yang lebih rendah dan lebih hina dari taraf binatang. S. Al A’raf 7:179
  • Taklid adalah penutup akal pikiran
  1. Taklid menurut Dr. Wahbah Zuhaili dalam kitabnya Ushul Al-Fiqh Al-Islami

“Taklid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya”, dalil adalah segala sesuatu yang bisa membuat kita mengetahui matlub khaban (kesimpulan).

2. Taklid menurut Imam Al- Ghazali

“Taklid adalah menerima perkataan orang lain tanpa dasar”

Allah SWT sangat memuji sekali kepada orang-orang yang dapat menjernihkan sesuatu tentang hakikatnya, disisihkannya dari benda-benda lain, kemudian dibedakan dan dimurnikan benda-benda itu setelah dibahas, diperiksa, diteliti, dan disaring oleh akal pikirannya. S. Az Zumar 39:17-18

Allah Ta’ala benar-benar mencela kepada orang-orang yang suka mengekor, mengembik, yakni para ahli taklid yang tidak suka menggunakan akal pikirannya sendiri, yang mereka ikuti hanyalah akal orang-orang lain. Mereka betul-betul beku. Firman Allah yang berkaitan dengan ini S. Al-Baqarah 2:170.

  • Bidang-bidang pemikiran

Agama islam mengajak seluruh umat manusia agar berpikir dan menggunakan akalnya dan bahkan betapa hebatnya anjuran ke arah itu, tetapi yang dikehendaki dalam islam bukanlah pemikiran yang tidak terkendali kebebasannya. Melainkan di dalam islam dianjurkan untuk berpikir sebatas ciptaan Allah SWT yakni apa-apa ciptaannya yang ada di langit dan di bumi. Tidak sebuah atau sesuatu pemikiranpun yang dilarang oleh Allah SWT kecuali memikirkan dzatNya Allah, sebab soal yang satu ini adalah pasti di luar kekuatan akal pikiran manusia.

Al-Quran Al-Karim sendiri penuh dengan beratus-ratus ayat (bukti dan tanda) yang mengajak kita semua untuk memikirkan keadaan alam semesta yang terbuka lebar dan luas di hadapan kita ini, beserta cakrawalanya yang tak terbatas oleh sesuatu apapun karena sangat besarnya dan tidak ada ujung pangkalnya. S. Al-Baqarah 2:219-220

  • Tujuan pemikiran

Tujuan utama diperintahkannya dalam islam untuk mengadakan pemikiran-pemikiran adalah untuk membangunkan akal dan menggunakan tugasnya dalam berpikir untuk menjernihkan hakikat dan menyelidiki. Sehingga sampailah manusia itu kepada petunjuk yang memberikan penerangan sejelas-jelasnya mengenai peraturan kehidupan, sebab-sebabnya perwujudan, tabiat-tabiat keadaan, dan hakikat segala sesuatu.

Manakala hal itu sudah terlaksana dengan baik, tentu akan dapat merupakan cahaya terang untuk menyingkap siapa yang sebenarnya menjadi Maha Pencipta dan pembentuk semuanya itu. Selanjutnya setelah diperoleh, maka dengan perlahan-lahan akan dicapailah hakikat yang terbesar, yaitu berma’rifat kepada Allah SWT. Jadi kema’rifatan kepada Allah SWT itulah yang sesungguhnya merupakan buah atau natijah daripada akal pikiran yang cerdik dan bergerak terus, juga sebagai hasil dari usaha pemikiran yang mendalam serta disinari oleh cahaya yang terang-benderang seperti proses pemikiran dan pencarian Nabi Ibrahim akan siapakah Tuhannya.

Dirangkum dari buku Aqidah Islam, Sayid Sabiq

Pendapat yang menyebabkan Socrates percaya dan beriman kepada Allah dan menundukkan Aristophanes yang mengingkari adanya ketuhanan


Assalamualaikum, wahai saudaraku

Simaklah kutipan percakapan Socrates dan Aristhopanes di bawah ini, ulangilah lebih dari sekali membaca dan pikirkanlah dalam – dalam.

Socrates:

Adakah orang-orang yang mengherankan Tuan karena kepandaian mereka atau karena keindahan buatannya?

Aristhopanes:

Ya ada memang, seperti dalam hal sajak atau puisi saya sangat tertarik dan heran sekali kepada syair-syair cerita dari Homero, dalam bidang lukisan ialah Zoxes dan dalam pembuatan patung ialah Polextic.

Socrates:

Pencipta-pencipta manakah yang kiranya patut lebih diherankan, yakni pencipta gambar-gambar yang tanpa dapat memberi akal serta gerakan ataukah yang menciptakan benda-benda yang juga dengan memberinya akal fikiran serta kehidupan?

Aristhopanes:

Tentu saja patut lebih diherankan yang menciptakan benda-benda yang dapat merasakan kenikmatan dengan memiliki akal fikiran serta kehidupan. Tetapi itupun terjadinya bukan karena sebagai hasil dari keadaan yang merupakan kebetulan belaka.

Socrates:

Apakah kiranya patut dianggap sebagai hal yang kebetulan jikalau sekiranya anggota-anggota tubuh ini diberikan untuk digunakan dengan maksud atau tujuan-tujuan yang tertentu, misalnya saja seperti mata yang dapat melihat, telinga yang dapat mendengar, hidung dapat mencium, lidah dapat merasakan. Lihat pula seperti mata ini di sekitarnya terdapat berbagai penjagaan, karena sangat besar rasa keinderaannya dan pula sangat lemahnya. Oleh karena itu di waktu tidur pasti ditutupkan ataupun juga ditutupkan di waktu ada keperluan, dilindungi pula dengan bulu mata dan alis di atasnya.

Demikian pula seperti telinga, di dalamnya diberi suatu alat penerima yang dapat mengumpulkan segenap macam suara dan masih banyak lagi contoh yang lain-lain.

Cobalah tuan pikirkan, patutkah itu semuanya terjadi sebagai hasil dari yang secara kebetulan?

Selain itu dapat pula dikemukakan adanya kecondongan dalam hati untuk mempunyai keturunan, begitu pula perasaan iba dan kasih sayang yang ada di dalam kalbu setiap ibu terhadap anaknya, padahal suatu hal yang amat jarang sekali bahwa seorang ayah dan ibu dapat menerima balasan kemanfaatan atau keuntungan dari anaknya itu. Sementara itu bagaimana hal-ihwal seorang bayi yang dengan sendirinya lalu dapat memperoleh pengertian untuk menyusu dan cara menyusunya itu, sebentar setelah ia dilahirkan. Apakah menurut pendapat Tuan hal itu semua terlaksanahanya sebagai hasil yang didapat secara kebetulan?

Aristhopanes:

Tentunya juga bukan karena kebetulan. Yah, saya baru mengerti sekarang dengan secara pasti bahwa di sana memang ada petunjuk akan adanya penciptaan. Tetapi yang pasti ialah bahwa yang menciptakan itu sangat agung sekali, yang mencintai akan adanya segala yang hidup. Namun masih ada yang menyukarkan otak saya, karena mengapa kita semua tidak dapat melihat semua yang menciptakan itu?

Socrates:

Kalau begitu kita sudah mencapai titik yang sama, yaitu mengakui adanya Maha Pencipta yang Maha Agung dan mencintai kehidupan dalam semesta ini. Tentang persoalan mengapa kita tidak dapat melihat Maha Pencipta, maka saya ingin mendapat jawaban Tuan, yaitu apakah Tuan merasa mempunyai nyawa, sebab kalau tuan tidak bernyawa, tentunya sudah mati. Punyakah atau tidak?

Aristhopanes:

Ya, tentu saja punya. Mengapa?

Socrates:

Jikalau demikian sudah mudah pemecahannya. Mengapa tuan sendiri tidak dapat melihat nyawa yang menguasai diri Tuan sendiri.

Jadi kalau Tuan tidak pernah melihat nyawa Tuan, apakah ini berarti kita boleh mengatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang timbul dari diri tuan itu adalah semata-mata disebabkan karena secara kebetulan semuanya, tanpa ada pemikiran sebelumnya?

Sampai di sini selesailah percakapan kedua orang ahli filsafat itu, yang sungguh-sungguh berfaedah untuk diresapi dan direnungkan dalam-dalam.

Maha benarlah Allah SWT yang berfirman:

“,,Dan setengah daripada tanda-tanda (ayat-ayat) mengenai adanya Allah ialah malam dan siang, serta matahari dan bulan. Janganlah kamu semua bersujud kepada matahari atau kepada bulan. Tetapi bersujudlah kepada Allah yang Maha Menciptakan semuanya itu, jikalau kamu semua benar-benar menyembahNya”.

QS. Fushshilat 37

Pertemuan kita dalam forum ini dan waktu yang tersedia untuk anda memahami tulisan ini adalah buka sesuatu yang kebetulan belaka…Allah telah memberiokan kita waktu untuk memahami sesuatu dan senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan untuk menuju jalanNya…untuk menjadi pribadi muslim Kaffah. Wassalamualaikum (Halilintar)

Sumber: Aqidah Islam (Pola Hidup Manusia Beriman). Sayid Sabiq

Islam adalah Keimanan dan Perbuatan


Bismillah…Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, dan Islam merupakan agama yang berintikan keimanan dan amal perbuatan. “Keimanan” itu merupakan akidah dan pokok (pangkal utama), yang di atasnya berdiri syari’at Islam. Yang kemudian dari pokok itu keluarlah cabang-cabangnya. Sedangkan “Perbuatan” itu merupakan syari’at dan cabang-cabang yang dianggap sebagai buah yang keluar dari keimanan serta akidah itu. Keimanan dan perbuatan, atau dengan kata lain’akidah dan syari’at’, keduanya itu antara satu dengan yang lain sambung-menyambung, hubung-menghubungi dan tidak dapat berpisah yang satu dengan yang lainnya. Keduanya adalah sebagai buah dengan pohonnya, sebagai musabbab dengan sebabnya atau sebagai natijah (hasil) dengan mukaddimahnya (pendahuluannya). (Aqidah Islam. Sayid Sabiq h. 15)

Oleh karena adanya hubungan yang erat itu, maka amal perbuatan selalu disertakan penyebutannya dengan keimanan dalam sebagian besar ayat-ayat Al Quran Al Karim, hal ini dapat dilihat dalam firman-firman Allah SWT yang menerangkan hubungan keimanan dan perbuatan, antara lain:

“,,Berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, bahwasanya mereka itu akan memperoleh surga yang di bawahnya mengalirlah beberapa sungai”. QS. Al Baqarah 25

“,,Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan, baik ia lelaki atau perempuan dan ia seorang yang beriman, maka pastilah Kami (Allah) akan memberinya kehidupan yang baik dan pasti kami beri balasan dengan pahalanya, menurut yang telah dikerjakan dengan sebaik-baiknya”. QS. An Nahl 97

“,,Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka Tuhan Yang Maha Pengasih akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang”. QS. Maryam 96

Seseorang yang telah menyatakan dirinya sebagai muslim (beragama Islam) agar menjadi muslim sejati (kaffah), haruslah mengerti dan menjalankan pokok-pokok ke-islaman (biasa disebut dengan rukun islam) yang lima, yaitu:

1. Mengucapkan dua kalimat Syahadat.

Dua kalimat syahadat yaitu dua perkatan pengakuan, ikrar, janji, dan sumpah yang diucapkan dengan lisan dan dibenarkan (diyakini) oleh hati untuk menjadi orang Islam. Kedua kalimat syahadat itu mempunyai pengertian, antara lain:

  1. Syahadat Tauhid, maksudnya: Mengakui (menyaksikan)ke-Esaan Allah (tidak berbilang).
  2. Syahadat Rasul, maksudnya: Mengakui (menyaksikan)ke-Rasulan Mabi Muhammad SAW.

2. Mendirikan (menegakkan) shalat lima waktu sehari semalam.

3. Mengeluarkan zakat.

4. Berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan

5. Menunaikan ibadah haji bagi yang mampu ke Baitullah.

Pokok-pokok keislaman di atas tentunya hanya akan dapat dilakukan apabila kita telah mengimani dengan sepenuh hati enam perkara dalam pokok-pokok keimanan (yang biasa disebut rukun iman) yang enam berikut:

  1. Beriman kepada Allah SWT dengan segala sifat kesempurnaanNya (Ma’rifat kepada Allah)
  2. Beriman kepada para Malaikat Allah.
  3. Beriman kepada kitab-kitab Allah yang pernah diturunkan kepada para RasulNya.
  4. Beriman kepada Rasul Allah.
  5. Beriman kepada Hari Kiamat.
  6. Beriman kepada Qodho dan Qadar (ketentuan Allah)

Ke-enam perkara di atas harus benar-benar tertanam dalam hati seorang mu’min dan diaplikasikan dalam amal perbuatan sehari-hari. Karena Iman merupakan pondasi kehidupan manusia yang beragama. (Halilintar) Wallohualam bishowab

Sumber: Aqidah Islam (Pola Hidup Manusia Beriman), Sayid Sabiq.

Cantik Tapi Syar’i (Ini Yang Dicari…)


Cantik tapi syar’i, Ini yang dicari…!!!

Kalo menurut kamu, kriteria cantik itu karena wajahnya ditempelin make up yang mahal, maka kecantikan gitu sebentar lagi akan hilang kalo dibasuh air. Kalo menurutmu cantik itu yang wajahnya mirip Tamara Blenzyki, Desi Ratnasari, Britney Spears, Kate Winselt atau para finalis Audisi Cantik Indonesia, maka tunggu aja 10 ampe 20 tahun mendatang, apa wajah mereka masih bisa kamu banggakan?

Tapi kalo kamu emang dari sononya, udah dianugerahi wajah cantik, mending banyak bersyukur deh. Trus abis gitu, kamu perlu lagi satu kecantikan yakni inner beauty. Inilah kecantikan yang jarang dimiliki oleh wanita meskipun dirinya terkategori cantik. Dan kecantikan ini pula yang bisa dimiliki oleh kamu yang nggak dikasih oleh Allah SWT, wajah lumayan cantik. Jadi buat kamu yang berwajah not good looking, nggak usah minder apalagi sewot. Kamu masih bisa memiliki Inner beauty.

Mong-omong soal inner beauty, pasti kaitannya dengan 3 B (brain, beauty, behavior). Okolah, misalnya kita sepakat kalo item atau unsur yang mo diukur dari inner beauty itu, tapi tunggu dulu dong. Sekarang apa yang mo dijadikan alat ukur atau siapa yang mengukur.

Nah, sama juga dengan mengukur 3 B tadi. Kalo ukuran 3 B, menggunakan standar lumrahnya orang sekarang, bukan berdasar kepada aqidah Islam. Ya jelas saja. Cewek yang bisa berlenggak lenggok diatas cat walk, yang mau berbusana you can see atau menampakan seluruh tubuhnya dengan berbalut bikini, tentu itu yang bakalan jadi jawaranya.

Berbeda kalo aqidah Islam dijadikan ukuran untuk ngukur 3 B itu. Siapapun dia akan dikatakan punya brain (baca : kecerdasan) kalo dia mau kreatif, inovatif tapi dengan tidak menerjang tata aturan Islam atau sembarangan mengadopsi pemikiran yang jelas-jelas kontradiksi dengan Islam. Seorang muslim nggak akan mungkin mengadopsi pemikiran Karl Mark yang bejat atau teori Adam Smith yang licik.

Juga wanita dibilang punya beauty (kecantikan) kalo dia bisa menjaga auratnya, dengan mengenakan di tubuhnya baju jilbab yang menutup dari leher sampai kaki (QS. Al-Ahzab 59) dan juga kepalanya ditutupi dengan kerudung (QS. An-Nuur 30). Itulah ciri wanita muslimah dan inilah kecantikan sejatinya. Karena dengan begitu maka kehormatan si wanita akan terjaga. Tul nggak ? Dan bagi calon suami, akan kegirangan mendapatkan calon isteri yang (maaf) “dalamannya” belum pernah dilihat orang lain, kecuali mahram-nya. Surga dunia, bukan ?

Trus, behavior (baca : tingkah laku/kesopanan). Seorang muslim akan dinilai hina oleh siapapun kalo dia berprilaku seperti binatang. Lho kok ?. Ya, binatang sukanya kawin sembarangan alias main tubruk aja, nggak peduli anak, ibu, bibi, tante. Jika perilaku seperti itu ada pada seseorang maka dia bisa dikategorikan nggak punya behavior Islam. Atau lebih gampangnya, buat kamu yang suka gaul bebas ama lawan jenis, baik akhirnya hamil atau tidak, itu bisa dikatakan juga nggak punya behavior Islam. Setuju ?

Ok Bro, apapun kata orang kalo cantik itu, ini, begini, begitu tapi kalo selama itu nggak pake standar islam, maka no way aja deh. Buat apa sih susah-susah ngikutin kemauan masyarakat tentang cantik yang model gituan, bukannya yang nyiptain standar mereka sendiri, bisa jadi suatu saat standar itu dilanggarnya. Kalo kamu masih keukeh mo berpenampilan cantik dengan ukuran dari masyarakat, silahkan. Tapi ada satu hal yang perlu kamu catat. Bahwa masyarakat nggak bisa menciptakan surga dan neraka, hanya Allah yang bisa. Artinya setiap aktivitas yang kita lakuin, akan dinilai oleh Allah bukan oleh Masyarakat. Maka, wajar aja bagi yang melanggar aturan Allah, pasti akan ditempatkan di Neraka. Hiiiih…takut !!!(dikutip dari sumber tak dikenal)